Rabu, 16 Juli 2014

Che (Guevara)

http://www.yenimakale.com/resim/4/che-resimleri.gif             Ernesto (Che) meninggalkan kenyamanan sebagai mentri di pemerintahan Castro; setelah berhasil dalam revolusi menggulingkan rezim Batista (1959). Bagiku, Che adalah salah satu dalam daftar sakit jiwa akut: masokistik irrasional—menerobos hutan gelap untuk mengajak para petani di Boivia berjuang. Di tahun 1967 yang naas, Che ditembak mati tentara Bolivia. Mungkin kita boleh menyebut hal ini sebagai kegilaan. Merayap-rayap dalam belukar, melintasi indahnya sungai-sungai dan padang ilalang untuk sebuah maut yang tengik. Kematian dalam gejolak revolusi yang “katanya” indah boleh jadi hanya jargon dan upaya menertawai diri, atau sebaliknya: keniscayaan untuk kematian dalam revolusi. Pemimpin mana yang tidak memimpikan dirinya berada dalam situasi yang nyaman: berburu di hutan, membidik buruan sambil menghisap cerutu Kuba. Tapi, Che memilih pergi dari kenyamanan. Dalam keadaan terdesak, ketika peluru dan nyawa tidak lagi berjarak, sakit di hutan, kelaparan; rasa pamrih eksistensi diam-diam menuntut haknya untuk dipenuhi.

Dan segala harga diri kelelakian saat itu—berada di garis depan pertempuran—menjadi eskapisme yang irrasional. Kematian dalam perang hanya urusan satu kali tarikan pelatuk. Selebihnya hanya cerita kepahlawanan dan mengorek heroisme yang pernah dialami si mati untuk membenarkan perjuangan dan nyawa yang tergadai. Setelah itu, kembalinya seseorang pada puaknya untuk diverivikasi pantas tidaknya gelar pahlawan disematkan. Dunia cenderung tidak pernah logis dalam memberikan penilaian. Namun, segala perilaku heroik yang masokistik selalu berbuah manis untuk sebuah eksistensi. Dan kematiannya memberikan makna bagi Che—penganut epikurian—untuk bisa menuntaskan hidupnya, setidaknya agar memiliki arti dan memerdekakan dirinya dengan cara yang sebetulnya menggelisahkan. Bisakah kita memisahkan Che dan heroismenya dari kolektivitas? Apakah ia berdiri sendiri dengan keberaniannya dan terlepas dari sesuatu yang tendensius? Kalau kita menganggap Che memiliki kesadaran warga negara (civisme) yang tinggi; Che bukan warga Kuba. Ia juga bukan orang Bolivia. Mengutip Debray—kawan seperjuangan Che sewaktu di Kuba yang sekarang menjadi pengaggum nasionalisme Amerika—yang menganggap: tidak ada masyarakat yang disucikan tanpa adanya tendensi. Dalam catatan perjalanan keliling Amerika Selatan bersama sahabatnya Alberto Granado yang juga seorang calon dokter—benih-benih heroisme tumbuh setelah melihat berbagai peristiwa yang terjadi pada masa itu. Che melakukan observasi partisipasi dan mencatat berbagai peristiwa: gerakan buruh dan gejolak kemanusiaan sebelum akhirnya merasa menemukan hidup. Juga setelah bertemu Castro dan mewujudkan revolusi yang diyakininya. 

Dengan kemudaan Che saat itu, kita bisa mencurigai bila apa yang dilakukannya berangkat dari label: tokoh kunci perjuangan—semacam ikon yang menjadi sorotan dunia internasional. Semangat cinta kasih yang didapatnya dari perjalanan keliling Amerika Selatan menjadi inspirasinya untuk terus berjuang; menukar kenyamanan dengan kepastian “mati”. Dalam suratnya kepada Castro, ia menulis: “bahwa dalam revolusi salah satu pihak akan menang atau mati (bila itu benar revolusi)”. Che membuktikan keyakinannya dengan membantu masyarakat Bolivia mengangkat senjata dan berjuang untuk rakyat yang bahkan tidak mengerti sedang diperjuangkan. Sewaktu revolusi di Kuba, perjuangannya menjadi begitu memungkinkan karena masyarakat turut pula membantunya. Sedangkan di Bolivia dia berjuang dengan beberapa gelintir orang yang masih punya kepercayaan untuk mengangkat senjata. Che bukan satu-satunya yang berani mengambil pilihan-pilihan hidup dengan melawan. Umumnya perlawanan selalu berangkat dari motivasi kolektif yang primordial. Baik di Kuba atau di Bolivia, Che menerobos batas-batas itu untuk sebuah keyakinan dan mungkin gairah hidup yang membuat darahnya berdesir. Mungkin itu bisa berupa keberanian; mungkin juga rasa pamrihnya untuk dikenang. Bersamaan dengan pamrihnya terhadap sesuatu, Che juga memiliki ketakutannya sendiri. Mekipun pilihannya telah ditentukan dengan menerjunkan diri ke Bolivia dan mengangkat senjata. Paling tidak, rasa melankolik tetap bisa dirasakan dalam catatan dan suratnya kepada anak-anaknya, Castro, dan ibunya. Rasa takut yang dibenamkan dalam-dalam hingga pada akhirnya terlontar dalam surat-surat singkatnya. Aung San Swu Kyi pernah berkata “satu-satunya penjara bagi manusia adalah rasa takut. Dan satu-satunya kebebebasan yang hakiki adalah bebas dari rasa takut.” Bagiku Che mungkin “takut” sebelum ia bergulat dalam revolusi di Bolivia. Tapi, mungkin Che juga diselamatkan jargon-jargon yang dibacanya atau yang dikarangnya sendiri untuk tetap meneguhkan hati menjalankan revolusi yang diyakininya. Untuk orang sekaliber Che, tidak ada pilihan lain kecuali konsisten dengan keyakinan dan egonya. Dalam konteks saat ini, Che masih tetap eksis dan menjadi bagian dari hidup kita. Semangat, keberanian, dan perjuangannya mendapat ganjaran yang setimpal. Ia menjadi begitu dikenal dikalangan aktivis muda yang masih merasa perlu sokongan semangat lewat kaus-kaus bergambar Che beserta jargon-jargon keberanian. Kita mungkin akan memandang Che dari dua sisi: pemitosan (pengkultusan), atau justru sinisme. 

Pengkultusan: bagi yang menganggap Che sebagai sebuah menara tinggi yang membuat kita merasa perlu mendongak ke atas—berjalan terus meski sesekali kembali menoleh—berharap sejarah kembali berulang tanpa mau mengerti tentang relevansi perjuangan beserta konteksnya. Sinisme: bagi yang menganggap sejarah perjuangan silam yang dikenang berlebihan justru membawa dampak dekadensi dalam perjuangan. Sejarah perjuangan selalu membawa pamrihnya sendiri. Megalomaniak menjadi begitu dekat dengan perjuangan kita saat ini yang sebenarnya tidak seberapa. Dalam perjuangan, pamrih selalu berjalan mendahului tujuan dan melupakan dasar perjuangan: keberanian. Soal istilah “kesucian” nilai perjuangan, sebainya kita lupakan sejak awal kita hendak berjuang. Kesucian hanya milik Tuhan, yang sangat jauh kaitannya dengan konteks perjuangan sekarang yang sudah bergumul dengan lumpur-lumpur politik. Mungkin juga kesadaran untuk memahami Che sbagai sepenggal kisah yang perlu dicatat dan dibicarakan ala kadarnya. Sebagai sesuatu yang juga terkadang memiliki khilafnya sendiri. Bukankah kita tak pernah punya penilaian yang adil dalam banyak hal. Ditambah lagi kita selalu terbuai dengan generalisasi, jargon, dan beragam eufimisme yang mengkarbit menjadi seseorang yang meyakinkan diri bila sedang berjuang.

Bila sejarah selalu berulang, lalu kapan kita mengangkat senjata? Mungkin fatalisme dan dasar pemikiran Che belum mendapatkan definisi dan hurufnya di sini. Kalau ada yang tidak sengaja memahami Che sebagai sesuatu yang sifatnya mitos, mungkin ia tersesat di kulit luar perjuangan dan yang begitu jauh dengan substansi. Sedangkan realita saat ini adalah hakim yang sekaligus membawa cermin dan memantulkan motif dan subjek yang kita perjuangkan. Andai apa yang diperjuangkan Che adalah sesuatu yang sifatnya menginduksi keberanian dan semangat—yang dengan sembrono kita sebut “mata rantai pergerakan” dan diyakini secara kolektif—mungkin kita butuh mendengar Nietzsche: “rasionalitas di dalam fatalisme ini, tidak selalu berupa kebenarian untuk mati tetapi bisa jadi berupa pelestarian hidup di bawah kondisi yang sangat membahayakan.” Dan satu-satunya definisi kita akan kondisi yang membahayakan adalah kelaparan yang tidak bisa ditunda. Untuk aktivis sekarang, yang sedang tersesat dan berada di atas ranjang kos; di tengah tuntutan akan link sebagai jalan pintas (KKN) di dunia kerja—bisakah kita kembali mengangkat senjata dan membicarakan kemungkinan dunia yang lebih baik dan revolusi yang sebenarnya: yang bukan revolusi cacing? 

Citra D. Vresti Trisna
2 April 2012

Sastra