Selasa, 20 April 2010

Perjalanan Tim Oposisi ke Gunung Lawu 2010

http://2.bp.blogspot.com/_Df2T0cVTYgo/THVndOmaPII/AAAAAAAAABE/eyPwyCAp-9w/s1600/FILE2867.JPG
OPOSISI team
Dingin Gunung Lawu Bahwa sebagai seorang manusia yang mengikrarkan diri untuk dapat mencintai Indonesia secara sehat, musti melakukan perjalanan-perjalanan untuk mengenal masyarakat dan realita hidup dari dekat. Seperti diskusi-diskusi panjang kawan-kawan LPM spirit mahasiswa di warung-warung kopi menghasilkan keputusan bila kami harus melakukan perjalanan. Perjalanan untuk menjadi seorang lelaki, sebagai seorang manusia manusia. 3 Agustus 2010 Setelah keputusan untuk melakukan perjalanan. 

Maka secara kebetulan kawan-kawan dari ARBIMAPALA ingin mengajak kawan-kawan SM (Spirit Mahasiswa) untuk memulai perjalanan dari Gunung Lawu. Maka sejak saat itu, kita deal untuk memulai perjalanan ke Gunung Lawu sebagai awal perjalanan kawan-kawan SM. 

Beranggotakan tujuh orang-orang unik dan nyentrik, maka dengan Bismillah kita berangkat pada sore yang gerimis, pukul 3 sore. Mereka adalah: Qorib, Defy, Tony, dan Citra, dari kawan ARBIMAPALA. Sedangkan Luthfi (FANATIK), Dayat (VOL). Dan dari SM adalah: Boyd, Defy, dan Citra. Sesuai dengan kebiasaan masokis dan penyakit bokek menahun yang melanda kawan-kawan, maka disepanjang perjalanan kami terpaksa menumpang dengan truk, dan pick up sampai di tempat tujuan. Lagipula truk dan pick up adalah kendaraan wajib sesuai ADRT ARBIMAPALA, maka kami harus mencari tumpangan di setiap pemberhentian, atau lampu-lampu merah. 

Disepanjang perjalanan, hujan terus mengguyur tiada habisnya. Tumpangan, demi tumpangan terus kita lewati dengan prihatin. Boyd yang belum terbiasa melompat ke truk, harus jatuh di Mojokerto ketika truk yang kita lewati tancap gas, sehingga lututnya terluka cukup parah. Tanpa-obat obatan dan hanya berbekal semangat, serta canda, akhirnya membuat Boyd nampak sedikit melupakan sakit yang ada pada lututnya. Karena hari sudah menjelang malam, maka kita menyantap bekal ala kadarnya di pinggir jalan. 

Tampang kami bertujuh sudah mirip dengan gelandangan karena pakaian yang kita pakai sudah demikian kumuh karena sebelumnya kita menumpang truk yang dipenuhi dengan Oli bekas. Tapi kita pikir bukan menjadi sebuah persoalan. Kita tetap berjalan. Menghabiskan malam dengan mencari tumpangan demi tumpangan. Hidup tumpangan. Pukul 12.30 pagi di daerah Mojowarno-Jombang. Tubuh kita sudah terlalu lelah untuk terus melangkah. Dengan kondisi berhujan-hujan dan tubuh yang hamir basah kuyup, juga beban berat di punggung, pada akhirnya lelah mengalahkan kami, sehingga harus tertidur di depan emperan toko dengan selimut debu dan angin malam. 4 Agustus 2010 Menjelang subuh tiba, sebelum kami harus di usir oleh empunya toko. Kita sudah kembali berdiri dibawah lampu merah untuk kembali mencari tumpangan. 

Sebuah pick up akhirnya membawa kami melaju. Meninggalkan Jombang bersama angin pagi terus hembusi dada kami. Pukul 13.00 siang, kami tiba di daerah Jogorogo. Di sebuah sawah pinggir perempatan jalan. Kita menjadi liar karena melihat pohon asam yang sudah matang. Maka kelakuan bar-bar kami menjadi-jadi. Kita menggasak asam matang sampai kantung tas kami penuh dan kembali berangkat. Di perjalanan kali ini, kita melakukan pendakian dari Desa Srambang. Jalur yang jarang dilewati oleh para pendaki, karena biasanya yang melewati jalur itu adalah para pencari kayu dan orang-orang desa. Karena kami seharusnya melakukan pendakian lewat jalur jatim, di cemoro sewu, atau yang jateng di cemoro kandang. Dasar orang-orang masokis. Melewati jalanan desa yang panjang, rumah-rumah penduduk dan bentangan sawah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan ini. Sampai pada pukul 15.00 sore, kami memulai pendakian. Sore yang ingdah, bersama matahari terbenam kami melewati jalan setapak para pencari kayu. Karena sama-sama tak ada yang mengenal jalur ini, maka kita melewati pendakian kali ini dengan hobi kami: berspekulasi. 

Dengan petunjuk jalan yang sudah diberitahu penduduk dan para pencari kayu, maka hanya dengan itulah kami melangkah. Hari sudah menjelang malam, dan kami memutuskan untuk melakukan ritual kami untuk mencari jalan sempalan. Dari sinilah petaka dimulai. Menjelang malam, karena kami merasa sudah tidak mungkin lagi berjalan, mengingat Luthfi sudah kurang enak badan dan terus menggigil, maka kita memutuskan untuk beristirahat di gubug petani tembakau. Kita mulai memasak dengan bekal kami yang seadanya (baca: kere). Tepat pukul 9 malam, dengan selembar daun pisang, kita makan beramai-ramai. Selepas makan, kami mengistirahatkan tubuh kami yang sudah lelah sambil berpelukan menahan hawa dingin yang menggila. Sambil terus menguatkan kawan yang sakit. Kita pasti bisa melewati perjalanan ini dengan selamat. 5 Agustus 2010 Pukul 02.00 am. Aku, Defy, dan Qorib mulai memasak untuk kawan-kawan. Luthfy sementara kita biarkan tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sementara Dayat, Tony, dan Boyd juga kita biarkan untuk beristirahat agar mereka kembali prima. Pukul 03.00 masakan sudah siap. 

Kubangunkan kawan-kawan kami yang tercinta untuk menyantap sarapan ala kadarnya.. Selepas berkemas, pukul empat pagi kita kembali melakukan pendakian. Jalanan setapak yang masih gelap dan angin pagi yang membuat gigi kami bergemeletuk tak menghalangi langkah kami melangkah. Sampai pada pukul enam pagi kami melewati jalan setapak yang mulai menghilang. Kami sudah jauh tersesat. Cuma alang-alang yang ada di depan mata dan tanaman menjalar berduri yang membuat kulit kami tergores dan berdarah-darah. Yah, kita sudah tersesat. Kalau di teruskan dan menerabas perjalanan, maka tidak ada jaminan kita akan selamat. Akhirnya Qorib melakukan inisiatif menaiki pohon untuk mencari jalanan setapak yang hilang. Sampai akirnya ia melihat kebun pisang. Kita menuju ke sana. Ada seseorang yang kemudian memberitahu kemana kami harus berjalan. Pria penyadap getah pinus terus menunjukkan kami jalannya dengan bahasa jawa halus. Ia terus dan terus bicara. Sementara kami hanya manggut-manggut karena sebenarnya tidak mengerti. Akhirnya kita cuma mengikuti arah yang di tunjuk pria penyadap itu. Sungguh malang orang-orang di sini. 

Satu kilo getah pinus hanya dihargai 1400 rupiah. Sementara getah dari satu pohon tak lebih dari 50 gram. Kemudian kita menjumpai ibu-ibu petani tembakau yang juga menunjukkan jalan kami. Ibu itu nampaknya gelisah dengan kami. “oalah, arek iki cilik-cilik munggahi gunung. Gunung kate koen trobos tuk tuk tuk. Kate dadi pahlawan ta? (kecil-kecil naik gunung. Gunung akan kalian trobos tuk tuk tuk. Mau jadi pahlawan)” Pukul sembilan pagi kita sampai di kir bayi. Di sebuah sungai, kita mengisi botol-botol minuman kami yang kosong, lalu kembali meneruskan perjalanan. Kemudian setelah beberapa jam kita berjalan, ada dua jalan yang bercabang. Jalan yang lurus adalah jalan berbatu, dan yang satunya jalan dari hasil cangkulan. Akhirnya kita memutuskan untuk lurus. Pukul 12 siang, kami menyantap bekal kami dari hasil eksperimen.

Pisang mentah yang dibakar dan diberi gula. Rasanya mirip singkong. Setelah puas makan dan minum, juga merokok, kita meneruskan perjalanan. Gunung sudah semakin terlihat. Kita semakin semangat. Kita berjalan sudah cukup jauh sejak istirahat tadi. Kira-kira sudah dua bukit kami lewati. Kemudian, kita bertemu dengan seorang lelaki tua pencari kayu. Ia mengatakan hal yang tak ingin kami dengar: sampean kebrasuk mas. Dalan iki buntu (anda tersesat mas. Jalan ini buntu). Akhirnya kita mengikuti orang itu kembali lagi sambil menunjukkan jalan yang benar. Dan waktu itu sungguh melelahkan. Pak tua itu jalan tana kenal istirahat. Ia jalan menuruni dan menaiki bukit dengan begitu cepat, dan hampir berlari. Kesal. Marah, dan lelah bercampur. Dan benar dugaan, bila jalan yang bercabang tadi adalah jalan yang benar. Sampai menjelang sore, kita melewati labirin yang gelap yang terbuat dari kayu-kayu. Sebentar lagi sampai. Hari menjelang gelap. Luthfi kembali kumat sakitnya. 

Ia menggigil dan hampir tak kuat lagi melakukan perjalanan. Akhirnya kita beristirahat sebentar sambil menggasak mie mentah dan gula merah agar kembali kuat, serta air yang harus di takar sedikit-sedikit karena sudah mulai habis. Dengan tenggorokan yang hampir terbakar karena haus dan lapar, kita meneruskan perjalanan. Hari sudah menjelang malam, sementara kawan yang sakit juga sudah benar-benar drop. Kita memutuskan untuk beristirahat dan tidur. Kawan-kawan yang masih kuat mulai memasang banner dan mantel yang hanya sebuah untuk menahan angin. Entahlah, berkat ide jenius atau bodoh untuk tak membawa tenda membuat kami terus menggigil. Aku terus menggigil sambil memotong tali yang dibutuhkan untuk mengikat tali di balik pohon sambil duduk dan memeluk Luthfi yang sakit. Sementara yang lain terus mengupayakan tempat yang hangat. Mendung gelap menyelimuti langit. Kami semakin gelisah. Aku mulai membuat parit-parit agar tempat yang kita pakai tidur, tidak tergenang. 

Terlambat gerimis telah tiba. Kita memaksakan tidur dan berpelukan. Angin yang kencang, menerpa baner kami dan membut temalinya putus. Kita sudah tidak lagi perduli. Kita hampir sekarat kedinginan. Benar seperti yang dikatakan internet, bila suhu malam di gunung ini berkisar antara 0-4 drajat celcius. Malam, kapan cepat berakhir. 6 Agustus 2010 Kami selamat. Kami meneruskan pendakian tanpa setetes air. Tenggorokan kami benar-benar tersiksa. Tubuh kami lemas, karena tak ada sarapan. Akhirnya Tuhan menjawab doa di sebuah sabana luas. Kami dengan adanya dedaunan dan bunga-bunga yang banyak terdaat titik-titik embun. Akhirnya kita menjilati dedaunan dengan beringas. Pemandangan disini begitu memikat. Padang rumput yang luas terhampar seerti tanah lapang. Bunga-bunga warna-warni, dan rusa-rusa yang berlarian di permadani dari rumput. 

Mereka sangat lucu. Hampir menuju puncak, ada sebuah warung di dekat petilasan Prabu Brawijaya. Menurut sesepuh, Prabu Brawijaya moksa di tempat ini. Tepat pukul satu siang kita tiba di Hargodumilah, pucak tertinggi gunung lawu. Rasa syukur benar-benar meledak dari dada kita. Setelah puas beberapa saat di pucak, pada pukul 3 sore kita turun. Dan kali ini melewati jalur lain, yakni lewat jalur cemorosewu. Kita sampai bawah tepat setelah hari menjelang petang. Kita kembali menuai celaka karena tidak ada truk dan pick up yang melintas. Sementara tubuh kembali menggigil. Akhirnya kita membuat api di trotoar pinggir jalan untuk menghangatkan diri. sampai pukul 12 malam, kita tak juga mendapat tumpangan dan memutuskan untuk tidur didepan emperan toko. 7 Agustus 2010. Pagi yang dingin kembali membawa kami untuk berperlukan untuk kesekian kalinya. Kemudian pada pukul dua pagi, kita memakasakan diri untuk keluar dan mencari tumpangan. 

Hingga sebuah truk pengangkut sapi berhasil membawa kami sampai di kota. Ketika matahari berada diatas kepala, kami terbangun dari tidur kami. Truk yang membawa kami terus melaju, dan sudah jauh membawa kami tersesat sampai kota Kediri. Akhirnya dengan menumpang pick up pengangkut penjahat milik polisi Kediri mengantar kami kembali ke lampu merah agar lebih mudah mendapatkan tumpangan. Setelah itu sebuah truk gandeng kembali mengangkut kami sampai ke Mojokerto. 

Dan pada akhirnya perjalanan kami finish di rumah Defy. Maka sebagai tanda dari akhir perjalanan kami, maka kita merayakannya dengan memasak makanan-makanan istimewa dan kembali merokok dengan sebebas-bebasnya. Waktu-waktu seperti itulah saat yang paling tepat meratapi nasib luka-luka di tubuh kami yang sudah tak terbilang jumlahnya. Perjalanan belum usai. Untuk perjalanan selanjutnya. Suku Baduy Dalam, kami datang(ctr).

Sastra