Rabu, 16 Juli 2014

Pemuda

Oleh: Citra D. Vresti Trisna

Martabat usia tua dengan jelas turun. Sejak pengertian pengalaman dijatuhkan nilainya. Masyarakat teknokratis modern berpendapat bahwa pengetahuan bukannya jadi bertambah banyak bersama jalannya waktu, melainkan malah jadi ketinggalan jaman.
La Vieleillesse – Simone de Beauvoir

Karena yang tua-tua akan meneruskan kepongahannya. Menjadi bandit atas kehidupan. Maka sebaiknya mereka dilupakan. Sekarang giliran yang muda-muda.

Kalau kehidupan ibarat sebuah edisi, maka edisi kali ini lebih banyak bicara pemuda. Sosok yang selayaknya menjadi tokoh penggerak kehidupan. Jadi bolehkah yang muda dibiarkan otaknya nganggur?

Sebab semua mesti berubah. Anggapan basi bila semua bisa dikondisikan sesuai dengan kehendak mereka yang tua-tua. Semuanya benar, tapi tidak bisa dibenarkan. Kaum tua pergerakan, sistem dan rezim yang uzur sudah mesti angkat kaki. Kalau pada pemilihan presma kemarin menjadi kemenangan rezim, sekaligus tanda bila tokoh muda tidak bisa mendayagunakan logikanya dalam memilih. Maka sudah selayaknya pergeseran dan penyadaran pada mahasiswa baru (aktivis muda) agar bisa lebih maju dalam berpikir demokratis.

Kalau tokoh tua DPM (dewan perwakilan mahasiswa) melawak soal pesta demokrasi, kita perlu mengerti dari mana demokrasi itu. Demokrasi bisa berarti kemenangan dan puncak dari keagungan logika dan pemikiran kebebasan. Sehingga dalam prakteknya, para pelakunya mesti bisa mendayagunakan logikanya. Pemilih muda mesti mengakhiri dirinya untuk jadi alat kemenangan rezim. Menjadi bebek yang bisa digiring kemanapun sesuai kehendak pengembalanya, karena Tuhan menciptakan akal manusia tidak hanya sekedar untuk menjadi gembala kehidupan. Lantas dimana fungsi mahasiswa sebagai sosok man of analysis?

Kemenangan rezim kemarin membuatku sedikit berburuk sangka bila fungsi man of analysis pada mahasiswa sudah menjadi mitos yang ‘pernah’ ada. Dalam artian sekarang sudah tidak ada, atau boleh jadi ada, ketika ada proyek-proyek basah. Mengapa tokoh muda sekarang cuma memposisikan dirinya sebagai murad (yang dikehendaki), tidak lantas menjadi murid (yang berkehendak). Karena konsep murid dan murad tidak hanya ada dalam proses menuntut ilmu saja, tapi pada menentukan pilihan dan menjadi pemilih yang memberikan suaranya berdasarkan kesadaran logis.

Ajaran dan dokrin kaum tua kepada yang muda sebaiknya mesti di telaah lebih jauh. Organisasi pergerakan tidak serta merta ada bila hanya untuk menjadi belenggu yang menghalangi kebebasan berpikir, tapi menyelenggarakan iklim untuk kebebasan berpikir dan berdialektika adalah sebenar-benarnya fungsi. Selain itu gerakan mahasiswa diramalkan akan segera bangkrut bila cuma bergeser fungsi untuk menjadi afiliasi partai politik. Karena tidak selamanya anak kecil bisa terus di bohongi dengan bunga-bunga perjuangan yang sebenarnya buah pikiran tanpa solusi dari kaum pergerakan sebelumnya. Organisasi pergerakan sekarang sudah menjadi mandul dengan kompromi-kompromi mereka atas keadaan. Sehingga kaum muda harus meninggalkan pola pemikiran kaum tua yang ketinggalan jaman, benih-benih pragmatis telah lama tumbuh dari organisasi yang mestinya menjadi harapan kaum muda.

Hai kaum muda. Mau kemana kalian sekarang?

Kalau hidup cuma sekedar ikut-ikutan, letakkan saja predikat kita sebagai seorang terpelajar yang beradab. Menjadi purba, dan hidup bebodoran adalah pilihan mereka yang tidak bisa berpikir dan menentukan pilihan berdasarkan kesadaran logis.

Sudah lama aku dengar dan aku baca ada suatu negeri dimana semua orang sama di depan Hukum. Tidak seperti di Hindia ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung dan memuliakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan.” – Pramoedya Ananta Toer –

Sebuah negeri yang besar adalah yang pemudanya bisa berpikir maju dan mengakhiri, memangkas, menghancurkan dengan bengis, tanpa ampun dan kompromi, pada kebobrokan kaum tua. Di kampungku, kaum mudanya loyo dan bebodoran macam ini. Negeri dongengan itu tak akan pernah ada di Hindia, atau Indonesia ini, Pram.
Seterusnya cuma dongengan.

Desember 2010

Top Ad 728x90